Features
Oleh : Maulizan Hidayat
Oleh : Maulizan Hidayat
Pukul 10.30
pagi Rahmat, saya, Najib, Ziadi dan Muhajjir sudah berkumpul di Blang Padang.
Dari Blang Padang kami bergerak melewati ule lheu menuju ke ujung Pancu kec.
Pekan Bada, kab. Aceh Besar. Namun sebelumnya kami mampir terlebih dahulu di
toko terdekat untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya. “jangan lupa beli
air minum, itu yang paling penting” ujar Rahmat. Air minum mutlak diperlukan
jika ingin berwisata ke Lhok Mata Ie, mengingat medan yang cukup menguras
tenaga. Karena letak pantai yang
tersembunyi dibalik kaki gunung.
tersembunyi dibalik kaki gunung.
Untuk
sampai ke Ujung Pancu dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari kota Banda
Aceh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Setibanya disana kami menitipkan
sepeda motor disalah satu rumah warga setempat. Kemudian perjalanan kami
lanjutkan dengan berjalan kaki, mengikuti jalan setapak menaiki kaki gunung
yang ada dibelakang kandang peternakan ayam. Kami harus berjalan kira-kira 30
menit lagi untuk bisa sampai ke pantai yang ada dibalik kaki gunung itu.
Untunglah
cuaca di pagi ini cukup bersahabat, sehingga perjalanan akan lebih mudah untuk
dilalui. Setapak demi setapak kami mendaki gunung dengan perlahan, di
perjalanan terlihat beberapa warga yang sedang berladang menanam cabai di
gunung. Belum sampai setengah perjalanan Najib dan Ziadi sudah terlihat
kelelahan. “tempat istirahatnya udah gak jauh lagi, semangat” kata si Rahmat.
Kamipun berhenti sejenak di tengah rimbunnya pepohonan khas pegunungan,
menenggak air guna mengisi kembali tenaga yang telah terkuras. Setelah cukup
beristirahat kami kembali melanjutkan perjalanan.
Kali ini kami
harus menuruni gunung, menandakan bahwa kami hampir sampai di pantai Lhok Mata
Ie. Bila hari baru saja hujan kondisi jalan akan sangat licin dan membuat
beberapa orang tergelincir. Tetapi kami beruntung, karena cuaca hari ini sedang
cerah sehingga perjalanan kami lebih mudah. Setidaknya begitulah yang kami
pikirkan. Tapi ternyata ada saja teman kami yang tergelincir. Saya yang
berjalan dibelakang Muhajjir tidak bisa menahan ketawa melihat caranya
terpeleset. “hati-hatilah Jir” nasehat Najib. “makanya jangan lari-lari, untung
cuma tepeleset. Coba kalau nabrak pohong, bisa ribet urusannya” sambung Rahmat.
Setelah membantu Muhajjir, kami kembali
melanjutkan perjalanan. Tidak lama
berjalan kami mendengar suara deburan ombak yang menandakan bahwa pantai Lhok
Mata Ie sudah dekat. Dari kejauhan terlihat air laut yang biru dengan gelombang
yang tenamg. Senyum sumbringah terlihat dari wajah kami yang sudah cukup
kelelahan. “Akhirnya sampai juga” ujar Rahmat dengan nada yang sedikit
terengah-engah.
Sebuah
pantai dengan pasir merah mudanya yang sangat mempesona, air laut yang jernih
dan ombak yang tenang, sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Disalah satu sisi
pantainya terdapat batu-batu tebing besar yang indah. Tidak jauh dari bibir
pantai terlihat pulau-pulau kecil yang merupakan gugusan dari pulau Aceh. Suasana
disani cukup sepi, tidak ada pengunjung lain yang datang ke sani selain kami hari ini. Biasanya pengunjung hanya ramai
dihari-hari libur. Meskipun begitu, kita harus tetap berhati-hati karena ada
monyet yang biasanya suka mengambil barang bawaan pengunjung.
“Waktunya
mandi” teriak muhajjir sambil berlari kearah laut. “ belum apa-apa udah mandi,
foto-foto dulu lah buat kenang-kenangan” ujar Ziadi. Maklum, suasana pantai yang sangat sepi membuat kami
terasa seperti di pulau pribadi. Disini kami bebas bersenang ria tanpa ada yang
mengganggu, tetapi tetap harus mematuhi aturan yang dibuat oleh aparatur
gampong (aparat desa) setempat.
Tidak hanya
itu, saat senja menjelang kita akan disuguhkan panorama matahari terbenam
diujung Sumatra yang sangat indah. Sinar matahari senja akan menyinari laut dan
pantainya dan semakin menambah pesona pantai merah muda ujung pancu. Saat yang
tepat bagi Rahmat untuk mengabadikan keindahan pantai Lhok Mata Ie. Keindahan
yang akan selalu abadi didalam setiap jepretan foto. Sebelum matahari
benar-benar terbenam kami kembali menapaki gunung, karena jika hari sudah gelap
akan sulit bagi kami untuk pulang melewati kaki gunung. Kecuali bagi yang berniat
untuk Camping di Lhok Mata Ie ini.


0 komentar:
Posting Komentar