Senin, 30 Desember 2013

“GENERASI MENUNDUK” Video Features Lifestyle


Kritik
Oleh :  Adian Putra

Sinopsis
            “Generasi Menunduk” merupakan video features yang bercerita tentang fenomena sosial dimana generasi sekarang lebih sering ‘menunduk’ akibat gadget atau alat teknologi komunikasi canggih berupa handphone, Ipad, Tabs, Android dan lain-lain. Alat-alat teknologi ini sudah diakui kehebatannya, selain itu alat-alat ini juga multifungsi sehingga terciptanya ‘masyarakat cyber’ yaitu masyarakat yang berinteraksi melalui media internet.
            Dibalik kecanggihannya, ternyata alat-alat teknologi tersebut menimbulkan efek yang kurang baik dilihat dari segi kehidupan sosial. Masyarakat menjadi anti-sosial dimana mereka seperti sudah
kecanduan, autis, dan tidak bisa lepas dari alat komunikasi tersebut. Gejala ini disebut sebagai Syndrom Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) yaitu mereka yang mengindap sindrom kekhawatiran yang berlebih ketika berada jauh dari gadget. Hampir 80% perhatian mereka hanya tertuju pada gadget yang mereka gunakan dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar, walaupun sedang berkumpul dengan keluarga, teman, bekerja, belajar, bahkan berkendara. Mereka tetap ‘menunduk’ memperhatikan gadget, entah apa yang mereka kerjakan, seperti memiliki dunia sendiri dan mengabaikan keadaan disekitar mereka.

Kritik
            Secara konsep, video yang dibuat oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNSYIAH angkatan 2010 ini sudah sangat bagus. Alur dan pengaturan sound antara backsong dan voice out sudah sesuai. Backsong yang dipilih pun sesuai dengan tema video ini. Ide pembuatan video ini pun sesuai dengan permasalahan sosial yang sedang terjadi sekarang, sehingga video ini sangat membantu kita untuk sadar akan bahayanya gadget yang bisa menyebabkan Syndrom Nomophobia dan menjadikan kita sebagai “Generasi Menunduk”.

            Namun dibalik semua keberhasilan mereka dalam membuat video ini, saya masih merasakan adanya beberapa kejanggalan-kejanggalan seperti komposisi gambar yang sedikit dan sering diulang-ulang, hal ini dapat membuat penonton agak sedikit bosan. Kemudian pengambilan sudut gambar atau angle video pada saat wawancara masih kurang tepat, karena sudut gambar yang diambil tidak sesuai dengan framing wawancara. Pada sesi wawancara dengan narasumber 1 (Tia AFI) angle yang diambil terlalu ke tengah dan terlalu dekat (over zoom in) dengan kamera sehingga menyebabkan wajah narasumber terlihat besar. Pada sesi wawancara dengan narasumber 2 (Sri Utami), angle yang diambil terlalu ke bawah sehingga lebih mirip pada sesi host atau pembawa acara sedang berbicara. Pada sesi wawancara dengan Pengamat Sosial (Marwan Nusuf) angle yang diambil terlalu lebar, sehingga menyebabkan banyak kekosongan di latar belakang. Namun pada sesi wawancara dengan Psikolog (Ria Hidayati) angle yang diambil sudah sesuai, yaitu dengan angle mediun close-up dan narasumber mengarah ke samping kamera, agar penonton dapat melihat narasumber dengan jelas serta komposisi latar belakang yang tepat. Jika saja ketiga sesi wawancara lainnya menggunakan angle medium close-up seperti pada wawancara dengan Psikolog dan gambar yang diambil lebih banyak sehingga tidak perlu diulang-ulang, saya berani mensejajarkan video features ini dengan video-video features yang dibuat oleh TRANS Corporation.

0 komentar:

Posting Komentar