Senin, 30 Desember 2013

Otobiografi Hikmah Muliady

Otobiografi

Oleh :  Hikmah Muliady

Nama saya Hikmah Muliady, biasa disapa Hikmah atau Ady, nama panggilan kecil saya Adoenez. Saya lahir di Banda Aceh, 29 Agustus 1993. Saya adalah anak kedua dari 3 bersaudara yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayah saya bernama Sulaiman dan Ibu saya bernama Cut Sulaidar. Ayah saya adalah seorang kontraktor (pemborong) dan Ibu saya adalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang aktif PKK dan pengajian dikampung yang disebut “Wirid”. Saya tinggal di Jl. Keuchik Hasyem n0. 04 Gampong Miruk kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh.
Sekolah TK saya di TK Kartini Jakarta Selatan tahun 1998, SD saya di SD 66 Banda Aceh lulusan tahun

Obituari Paul Walker

Obituari
Oleh :  Ikhwan Nuryadi

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia tentu suatu saat akan menemui ajal mereka dan kembali kepada Sang Pencipta. Dengan keterbatasannya, manusia tak pernah mengetahui kapan dan dengan cara apa kematian akan menjemput mereka. Dan hal ini pulalah yang terjadi pada aktor Hollywood, Paul Walker. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Paul tak akan pernah menyangka acara sosial yang ia lakukan malam itu merupakan acara terakhirnya. Yah dengan mobil kesayangan, Paul Walker harus merenggut nyawa secara tragis. Banyak orang terutama keluarga dan teman dekat Paul yang terpukul dengan kejadian ini.

Peringati 9 Tahun Tsunami, Nelayan Aceh Tidak Melaut


Reportase
Oleh :  Zulfan
Banda Aceh - Memperingati sembilan tahun tsunami yang memporak-porandakan Aceh, nelayan dari berbagai daerah di Aceh tidak melaut. Untuk tahun ini, nelayan tidak melaut selama dua hari.Ratusan nelayan Aceh dari berbagai kabupaten kota yang kebetulan melintas atau memang berlabuh di Lampulo sudah merapat ke dermaga. Kendala tidak melaut, para nelayan menyibukkan diri dengan menjahit atau memperbaiki jaring, serta mngurus perlengkapan-perlengkapan melaut.



Panglima Laot Lhok Krueng Aceh, Tabrani, mengatakan, adat pantang melaut ini disepakati oleh seluruh nelayan yang ada di Aceh selama satu hari. Namun tahun ini nelayan tidak melaut selama dua hari karena bertepatan dengan hari Jumat yang merupakan hari pantang melaut bagi

“GENERASI MENUNDUK” Video Features Lifestyle


Kritik
Oleh :  Adian Putra

Sinopsis
            “Generasi Menunduk” merupakan video features yang bercerita tentang fenomena sosial dimana generasi sekarang lebih sering ‘menunduk’ akibat gadget atau alat teknologi komunikasi canggih berupa handphone, Ipad, Tabs, Android dan lain-lain. Alat-alat teknologi ini sudah diakui kehebatannya, selain itu alat-alat ini juga multifungsi sehingga terciptanya ‘masyarakat cyber’ yaitu masyarakat yang berinteraksi melalui media internet.
            Dibalik kecanggihannya, ternyata alat-alat teknologi tersebut menimbulkan efek yang kurang baik dilihat dari segi kehidupan sosial. Masyarakat menjadi anti-sosial dimana mereka seperti sudah

Gemerlap Cahaya Tahun Baru di Langit Aceh

Editorial
Oleh : Siti Rahmayani

Rabu, 1 Januari 2014, masyarakat Banda Aceh kembali merayakan hari tahun baru, setelah dua belas bulan lamanya menjalani berbagai macam rutinitas, baik itu orang tua, anak-anak, remaja, dokter, mahasiswa, pelajar, PNS, pejabat, guru, nelayan, petani, ulama, Tengku, dan lain-lain. Bagi masyarakat Aceh, tahun baru bukanlah hari besar yang harus dirayakan dengan meriah, tahun baru hanya dianggap sebagai pergantian tahun Masehi. Karena sebenarnya masyarakat Aceh merupakan masyarakat yang memegang teguh syari’at Islam, yang berarti mereka lebih mengutamakan perayaan tahun baru Islam.
Namun selama ini, tahun baru sering diidentikkan dengan gemerlap percikan cahaya kembang api dilangit Banda Aceh yang sangat indah. Remajalah yang menjadi aktor utama dalam memeriahkan malam tahun baru di Banda Aceh. Antusias remaja yang sangat tinggi membuat masyarakat lain ikut turut memeriahkannya. Simpang Lima menjadi pusat perayaan kembang api setiap tahunnya. Banda Aceh yang merupakan kota syari’at melarang keras perayaan tahun baru dengan membakar kembang api, berbagai macam larangan sudah dilakukan pihak pemerintah, akan tetapi masyarakat khususnya remaja Banda Aceh menepis larangan tersebut dan tetap merayakannya. Disisi lain suara pengajian berkumandang keras di Mesjid Raya Baiturrahman. Akibatnya terjadi ketidaknyamanan sosial, seperti ingin membandingkan sesuatu yang baik dan buruk. Terjadi kemacetan dimana-mana, terdengar suara-suara rakyat yang berteriak riang gembira melihat gemerlap cahaya kembang api dilangit Banda Aceh.
Padahal, selama setahun penuh melalui berbagai macam kegiatan suka maupun duka, manusia dididik menjadi manusia yang dapat belajar dari kesalahan dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupan yang lebih baik ditahun berikunya. Seharusnya mereka yang merayakan tahun baru lebih mengutamakan ibadah untuk bersyukur mengingat Banda Aceh merupakan kota syari’at dengan tidak menepis larangan perayaan tahun baru yang kegiatannya hanyalah “membakar uang” saja.
Perayaan Tahun baru dengan kembang api dianggap sebagai kegiatan yang sama halnya dengan membakar uang, karena untuk membeli kembang api yang sangat indah seseorang harus mengeluarkan budget yang begitu besar dan hanya dapat dinikmati hitungan menit saja. Hal ini berarti menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting alias sepele dan ini dibenci oleh ajaran Islam. Itulah yang menjadi alasan utama mengapa perayaan tahun baru tidak diperbolehkan oleh pemerintah kota Banda Aceh, dan seakan-akan masyarakat Banda Aceh lupa dan menghiraukan ajaran syari’at tersebut.
Jika demikian halnya, maka sebenarnya kita tidak berhak merayakan hari tahun baru, karena ternyata kita telah kalah dalam pertarungan selama setahun penuh. Sebab, waktu ternyata telah gagal mendidik kita menjadi manusia yang lebih baik. Pun begitu, terlepas berbagai kelebihan dan kekurangan kita selama setahun penuh melakukan kegiatan suka dan duka, tak salahnya jika menatap hari dan tahun baru dengan penuh optimisme, karena kita kembali lagi ke waktu dimana kita dapat memperbaiki diri menjadi lebih baik.

 

Minggu, 29 Desember 2013

Pantai Lhok Mata Ie, Pasir Merah Muda yang Menggoda

Features
Oleh :  Maulizan Hidayat

Pukul 10.30 pagi Rahmat, saya, Najib, Ziadi dan Muhajjir sudah berkumpul di Blang Padang. Dari Blang Padang kami bergerak melewati ule lheu menuju ke ujung Pancu kec. Pekan Bada, kab. Aceh Besar. Namun sebelumnya kami mampir terlebih dahulu di toko terdekat untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya. “jangan lupa beli air minum, itu yang paling penting” ujar Rahmat. Air minum mutlak diperlukan jika ingin berwisata ke Lhok Mata Ie, mengingat medan yang cukup menguras tenaga. Karena letak pantai yang

Resensi Novel Cerita Hati Maharani

Oleh :  Supriadi

A.    Indetitas Buku
Buku               : Cerita Hati Maharani
Pengarang       : Cut Nursyidah Dewi
Tahun Terbit   : 2012
ISBN               : 9786021911631
Halaman          : 376
Penerbit         : Diva Press
Bahasa            : Indonesia

    B.      Cerita Singkat   
Novel Cerita Hati Maharani yang dikarang oleh Cut Nursyidah Dewi seorang  pengarang buku yang berasal dari Aceh. Dalam buku Cerita Hati Maharani memiliki unsur yang mengalir indah, jernih, humoris. Inspiratif, dan penuh selubung nilai-nilai religius.
Pemeran atau tokohnya terlihat jelas bahwa seorang gadis biasa yang bernama Rani. Rani memiliki penampilan fisiknya yang juga biasa, namun ada sesuatu